HIV dan Remaja


Remaja Juga Rentan Terkena HIV/AIDS, Koq Bisa?

Penyebaran penyakit HIV/AIDS di negeri ini semakin mempriAIDShatinkan, jumlah angka pengidapnya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan  sekarang jangkauan penularannya lebih luas, kalau dulu orang yang paling beresiko tinggi tertular HIV/AIDS terbatas pada kaum homoseksual dan pekerja seks komersial sekarang tidak pandang bulu lagi, tidak pandang jenis kelamin, jabatan, usia, dan status ekonomi semuanya bisa tertular HIV/AIDS. Dan ternyata remaja menempati ranking pertama sebagai kelompok terbesar pengidap HIV/AIDS dibandingkan dengan kelompok usia lain.
Menanggapi kenyataan diatas kita tentu bertanya-tanya, bagaimana mungkin? Koq bisa ya? Wah gawat ini, sebagai generasi harapan bangsa kita sudah harus bergelut melawan HIV/AIDS yang mematikan dan belum ditemukan obatnya itu, padahal di usia seperti kita dituntut untuk belajar dan belajar agar bisa menjadi generasi penerus yang berkualitas. Trus kalau belum-belum sudah terkena HIV/AIDS , gimana dong?Bagaiamana nich mengatasinya?

Di beberapa media dan seminar tentang HIV/AIDS, ternyata kita yang remaja ini digolongkan kelompok yang rentan dengan HIV/AIDS. Kasus HIV/AIDS di kalangan remaja diperkirakan sebagian besar terjadi dari proses berbagi jarum suntik di antara pengguna obat-obatan terlarang, termasuk narkoba ataupun NAPZA sebagian lagi karena hubungan seks pranikah atau seks bebas. Dari 4.389 kasus HIV/AIDS di Indonesia seperti disebut di atas, 1.392 kasus atau 31,7 persen adalah kelompok usia 15-29 tahun, terdiri dari kelompok usia 15-19 sebanyak 176 kasus dan kelompok usia 20-29 tahun 1.225 kasus. Ngeri  kan?

Mungkin selama ini, banyak di antara kita yang belum menyadari bahwa banyak tingkah laku atau perbuatan kita yang sangat berisiko tinggi untuk tertular HIV/AIDS. Contohnya saja seks di luar nikah. Masih banyak di antara kita yang berpandangan bahwa seksualitas hanya masalah perawan atau nggak perawan. Padahal, hubungan seks di luar nikah cukup besar risikonya untuk menjadi hubungan seks yang nggak aman meskipun dilakukan dengan pacar sendiri.

Hubungan seks yang nggak aman bisa menyebabkan kehamilan tidak diinginkan (KTD). KTD sendiri kelak bisa menimbulkan masalah lain, baik fisik, sosial, maupun mental. Apalagi resiko KTD ini yang paling dirugikan adalah kita remaja perempuan. Risiko lain dari hubungan seks seperti ini adalah terkena infeksi menular seksual (IMS) yang dapat menyebabkan kemandulan dan yang paling menyeramkan adalah resiko untuk tertular  HIV/AIDS. Ketidaktahuan kita terhadap perilaku kita sendiri yang berisiko tertular HIV/AIDS inilah yang justru memicu kemungkinan untuk tertular dan bahkan menyebarkan HIV/AIDS di kalangan teman-teman kita.

Belum lagi banyak juga teman kita yang lantaran ingin coba-coba, biar dianggap keren, ditekan dan takut sama temannya ujung-ujungnya terperangkap dengan narkoba dan akhirnya bisa juga terpapar virus HIV/AIDS.

Akses Informasi yang kurang

Wajar aja sih, kalau kita belum tahu banyak soal kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Maklum, akses informasi tentang kedua hal ini, termasuk masalah pelayanan konsultasi dan medis tentang hal tersebut, masih sangat terbatas di kalangan remaja. Kalaupun ada, terkesan kurang akrab buat kita. Akibatnya, kita mencoba mencari informasi di media lain yang kurang mendidik, atau malah justru dapat menjerumuskan kita seperti media seks pornografi. Apalagi sekarang internet ada dimana-mana dan kita bisa mencari informasi apapun tanpa ada penyaringan.

Di kalangan kita, setidaknya ada tiga kelompok penting yang paling dekat dengan kehidupan kita, yaitu guru, ortu, dan teman-teman. Sayangnya komunikasi dengan ketiga pihak tersebut belum sepenuhnya optimal. Apalagi yang berkenaan dengan masalah seksualitas. Masih banyak ortu yang membatasi pembicaraan seksualitas dengan berbagai alasan. Seksualitas dianggap sebagai masalah tabu untuk dibicarakan. Akhirnya kita gagal mendapatkan informasi dari ortu yang seharusnya menjadi sumber informasi paling dekat dengan kita.

Guru-guru kita pun banyak yang cara berkomunikasinya cenderung kaku dan nggak terbuka. Padahal, guru memiliki segudang informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS. Beda dengan guru yang youth friendly. Pasti mereka bisa menjadi tempat curhat.

Kemudian sebagian besar dari kita juga menganggap hubungan dengan teman adalah yang paling ideal sehingga lebih enak diajak berbicara masalah apa pun. Sayangnya, informasi dari teman sering nggak proporsional dan keliru.

Budaya permisif

Meski kita bukan satu-satunya penyebab tingginya kasus HIV/AIDS di lingkungan kita, tetapi budaya serba boleh (permisif) di kalangan kita mendorong perilaku seks nggak aman dan narkoba semakin meningkat. Dampaknya terlihat dari tingginya kasus HIV/AIDS tersebut, di mana penularan HIV terbesar adalah melalui hubungan seksual yang nggak aman dan pemakaian narkoba dengan jarum suntik.

Dalam diskusi dengan beberapa teman kadang muncul pernyataan terang-terangan, …Ah, pacaran kalo cuma gandengan doang mah garing, enggak ciuman enggak asyik, lagi. Temen-temen juga sudah banyak kok yang sudah gituan (berhubungan seks Red). Gue nganggepnya fine-fine aja tuh.

Dari sisi kesehatan saja pernyataan tersebut sudah enggak benar, apalagi dari sisi norma agama dan norma sosial. Kalau cara pandang kita terhadap perilaku seksual semakin permisif, mustahil rasanya angka pengidap HIV/AIDS di kalangan kita akan menurun.

Bagaimana agar tidak tertular?

Banyak jalan yang bisa kita lakukan untuk mencegah agar kita yang sudah dikategorikan rentan dengan HIV/AIDS ini tidak tertular, antara lain:

  • Tidak melakukan segala bentuk hubungan seksual sebelum menikah atau terjerumus dalam pergaulan seks bebas.
  • Jangan sekali-kali berhubungan dengan yang namanya narkoba dan miras. Karena ini adalah pintu gerbang menuju kehancuran termasuk akses termuda untuk tertular HIV/AIDS.
  • Kalau kita pengin menato atau menindik, pastikan bahwa alat yang digunakan steril.
  • Jangan menggunakan alat-alat pribadi seperti sikat gigi dan pisau cukur secara bergantian.

Bagaimana tahu kita “bersih”?

Untuk mengetahui apakah kita tertular HIV/AIDS atau tidak, kita perlu pergi ke dokter menjalani serangkaian tes. Pada tahap awal secara fisik kita tidak akan pernah tahu terinfeksi atau tidak, karena proses perkembangan virus HIV sangat lama sekitar 3-10 tahun. Tapi ingat begitu lewat enam bulan sejak terinfeksi kita sudah berpotensi untuk menularkan ke orang lain dan ketika virus itu sudah masuk ke dalam darah tidak akan pernah bisa keluar lagi.

Kalau kita yakin kita enggak pernah “macam-macam” alias lurus-lurus aja, ya enggak perlu tes. Karena tes ini dilakukan ketika kita curiga bahwa kita mungkin telah terinfeksi virus HIV melalui perilaku berisiko tinggi kita.

Gimana andaikan kita HIV-positif…. Apa kita harus memberitahukannya kepada seseorang? Jawabnya ya, karena orang lain, terutama orang-orang yang dekat dengan kita, berhak tahu sehingga mereka dapat melindungi diri dan memberikan dukungan moral. Yang terpenting jangan anggap itu sebagai akhir dari segalanya, hidup harus terus berjalan.

Caranya, pertama, atasi perasaan kita sendiri dengan membicarakannya dengan seorang konselor, tokoh agama, petugas kesehatan, atau teman sebaya yang memahami masalah ini dan yang kita percaya. Pahami hak-hak dan pilihan-pilihan kita sebagai ODHA. Kalau secara emosional kita sudah merasa siap, bicaralah dengan keluarga atau teman, tapi bersiaplah untuk menerima reaksi kemarahan dan ketakutan mereka.

Kedua, kita harus cepat-cepat mencari pertolongan. Sekarang banyak sekali lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan masalah HIV/AIDS. Kita akan mendapatkan penanganan lebih lanjut dan juga pendampingan.

Terakhir mudah-mudahan tidak ada di antara kita yang mengalami hal di atas asal kita secara sadar dan bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan kita, termasuk perilaku seksual kita. Jangan main api kalau enggak mau terbakar. Sebenarnya yang paling ampuh adalah kendalikan perilaku kita untuk selalu tetap berada pada rambu-rambu agama. Karena itu akan membimbing kita untuk melewati masa-masa remaja yang penuh dengan gejolak dan tantangan dan memasuki usia dewasa dengan lebih bertanggung jawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: