Bersujud di Keheningan Malam


By Roni Khoiron

Saat terakhir menjelang malam berganti fajar

Saat semua manusia masih terlelap di atas peraduannya

Tepat ketika hembusan angin tak terdengar sama sekali

Menghentikan lambaian rumput yang menari-nari

Bahkan menahan sesaat daun-daun yang berguguran

Saat itulah keajaiban itu datang

Menerobos setiap pintu rumah dan tempat ibadah

Mencari adakah manusia yang sedang terjaga

Bersujud mengagungkan Tuhan memohon pertolongan

Bercucuran air mata menyadari segala kesalahan

Saat itulah mereka benar-benar mendapatkan apa yang diucapkannya

Parafrase di atas menggambarkan sebuah peristiwa langkah bagi umat Islam yaitu datangnya lailatul qadar atau malam seribu bulan. Malam dimana sebuah doa bisa terkabulkan, malam penuh berkah menyamai berkahnya seribu bulan. Banyak literatur Islam menyebutkan bahwa malam lailatul qadar datangnya hanya pada saat bulan suci Ramadhan. Bahkan dipersempit lagi yaitu pada sepuluh  hari terakhir bulan Ramadhan tepatnya pada malam-malam ganjil. Namun ada juga ulama yang mengatakan bahwa lailatul qadar datang pada setiap malam sepanjang bulan Ramadhan.

Sebenarnya tanpa menunggu datangnya lailatul qadar yang hanya setahun sekali, Allah SWT telah menyediakan saat-saat yang tepat untuk kita berdoa yang berkahnya bisa menyamai berkah lailatul qadar. Saat dimana kita bisa lebih dekat dengan Dia, saat dimana kita bisa memohon ampunan-Nya, saat dimana kita mengakui segala keterbatasan sebagai manusia dan pada akhirnya kita mohon pertolongannya. Rasullullah SAW pernah mengatakan bahwa Allah SWT akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan pada malam terakhir sebelum berganti fajar, ada yang bilang tepatnya sepertiga malam terakhir. Dimana kesempatan ini terjadi pada setiap malam sepanjang tahun seumur hidup kita di dunia ini. Waktunya memang singkat sekali hanya beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang. Tapi walaupun dengan rentang waktu yang singkat berkah yang disediakan oleh Allah SWT begitu berlimpah. Banyak sekali hadist Rasullullah SAW yang menegaskan bahwa saat sepertiga malam terakhir adalah saat-saat paling mustajabah, saat dimana sebuah doa mudah terkabulkan.

Tuntutan dari Rasullullah SAW untuk mengisi saat-saat tersebut  adalah dengan berdzikir dan berdoa, salah satunya adalah melakukan amalan shalat tahajjud. Shalat tahajjud merupakan shalat sunnah yang diutamakan, dilakukan sendirian dengan jumlah rakaat yang tak terbatas tapi dalam dua rakaat salam, artinya setiap dua rakaat kita harus melakukan tasyahud akhir atau salam. Kemudian jika ingin meneruskan kita mulai lagi dengan takbiratul ikhram begitu seterusnya sampai pada rakaat yang kita inginkan. Beberapa ulama menegaskan bahwa shalat tahajjud sebaiknya dilakukan setelah kita tidur dan diakhiri dengan shalat witir.

Tatacara shalat tahajjud sama dengan shalat fardhu pada umumnya tapi ada beberapa surah dan doa khusus yang sebaiknya kita baca pada saat shalat tahajjud. Untuk surah pendek dianjurkan membaca surah Al-ikhlas pada rakaat pertama dan surah Al-kafiruun pada rakaat kedua. Kemudian pada saat sujud terakhir disunnahkan diperlama dengan membaca beberapa doa yang dianjurkan. Setelah rangkaian shalat berakhir ada lagi beberapa doa yang juga dianjurkan untuk dibaca sebelum kita memanjaatkan doa yang bersifat pribadi.

Apabila Rasulullah bangun pada malam hari, beliau selalu bertahajjud. Beliau berdoa:

‘Allaahumma lakalhamdu anta qayyimus samawaati wal ardhi wa man fiihinna, walakal hamdu, laka mulku samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, walakal hamdu, anta nuurus samaawaati wal ardhi wa man fiihinna, wa lakal hamdu, anta malikus samaawaati wal ardhi, wa lakal hamdu, antal haqqu, wawa’dukal haqqu, waliqaa uka haqqun, waqauluka haqqun, wal jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wannabbiyuuna haqqun, wa muhammadun sallaahu ‘alaihi wa sallama haqqun, wassa’atu haqqun. Allaahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa’alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wabika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu wamaa akhrartu, wamaa asrartu wamaa a’lantu, antal muqaddimu wa antal muakhkhiru, laa ilaaha illaa anta, au laa ilaaha ghairuka.’

Dari segi waktu memang shalat tahajjud sangat sulit diamalkan. Malam hari dimana kita sedang enak-enaknya terlelap pasti akan merasa malas untuk bangun membasuh muka dan melakukan sholat ini. Namun banyak orang bilang bahwa dari segi suasana ini sangat mendukung, kesunyian akan membuat kita menjadi lebih fokus pada apa yang kita lakukan terutama pada hal-hal yang bersifat spiritual. Keheningan akan membawa kita keluar dari self-awareness dan masuk ke alam bawah sadar yang menakjubkan. Saat itulah kita bisa benar-benar merasa dekat dengan Sang Pencipta. Dan mendapatkan apa yang disebut dengan khusyu’ dalam shalat. Tapi perlu diingat ini tidaklah mudah, karena kita harus mengawalinya dengan hati yang bersih dan ikhlas baru kita bisa mendapatkan khusyu’, menurut ustadz Abu Sangkan, “kekhusyukan itu tidak bisa dicari atau diciptakan tetapi semata-mata merupakan pemberian dari Allah SWT”. Dari sini bisa diartikan bahwa jika kita melakukan shalat, dalam hal ini adalah shalat tahujjud, dengan hati yang ikhlas dan bersih serta semata-mata karena Allah SWT, insyah Allah kekhusyu’kan itu akan kita dapatkan. Kedua hal ini yaitu waktu dan khyusu’ merupakan poin utama dalam melakukan shalat tahajjud. Waktu merupakan tantangan bagi kita untuk bisa bangun di tengah malam dan melakukan sujud demi sujud. Ini butuh niat dan semangat yang luar biasa. Sementara khusyu’ berkaitan dengan kebersihan hati setiap hari dari hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan keikhlasan untuk melakukan ibadah ini semata-mata hanya karena Allah SWT bukan karena permohonan yang akan kita panjatkan. Permohonan yang dikabulkan hanya merupakan hasil dari keikhlasan hati. Nah, jika kita sudah bisa mengalahkan waktu tersebut dan mendapatkan khusyu’ maka shalat tahajjud kita, insyah Allah akan menjadi amalan yang penuh berkah.

Seperti ibadah-ibadah lainnya dalam Islam, shalat tahajjud akan menjadi penuh berkah jika dilakukan istiqomah atau terus-menerus. Memang tidak dilarang melakukan shalat tahajjud hanya sesekali waktu tapi keberkahannya akan jauh mengalahkan shalat tahajjud yang dilakukan setiap malam, atau setidaknya dilakukan rutin dalam rentang waktu tertentu. Jangan hanya melakukan shalat tahajjud pada saat kita dalam keadaan sedih atau menghadapi masalah. Salah satu doktor dari ITS Surabaya, Dr. M. Sholeh bahkan telah mengadakan penelitian bahwa sholat tahajjud yang dilakukan rutin bisa menjadi alternatif  terapi untuk mengatasai berbagai penyakit fisik. Alangkah dasyatnya Allah SWT memberikan amalan sunnah shalat tahajjud, sujud demi sujud yang kita lakukan di tengah keheningan malam tidak sebanding dengan luas keberkahannya. Waallahualam bis shawab.

4 Responses to “Bersujud di Keheningan Malam”

  1. sok puitis…mau saingan sama aku tah…doain novelku tahun depan harus masuk ke penerbit.

  2. subuhane kerinan tah…

  3. religius amat sih hahahaha like this deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: