Peran Strategis Organisasi Berbasis Agama Terhadap AIDS


By Nurdiansyah Dalidjo

Dalam berkehidupan dan bermasyarakat, agama memiliki peran yang sangat penting bagi negara kita. Saya tentu tidak bisa membayangkan rupa Indonesia tanpa keterlibatan agama-agama yang ada di sini. Beragam nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan di lingkungan masyarakat, selalu terkait kehadiran agama. Tidak hanya memberikan panduan dalam berbagai hal, agama juga turut berkontribusi menyediakan sarana (seperti rumah ibadah) yang dapat diakses siapa pun untuk keperluan penunjang sosial apa pun, selain utamanya sebagai ruang publik menjalin hubungan vertikal dengan Tuhan. Maka, saya menyadari betapa kuat pengaruh agama terhadap bagaimana cara berpikir seseorang memandang sesuatu hal, misalnya terhadap fenomena HIV & AIDS yang dihadapi oleh kita semua.

Selain persoalan akses dan kebijakan, persoalan sosial-kultural adalah kendala utama dalam menanggulangi HIV & AIDS. Hambatan yang tampak nyata meliputi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA maupun HIV & AIDS sendiri. Banyak orang, yang kurang memiliki informasi mendasar perihal AIDS, akan dengan mudah mengatakan AIDS sebagai “penyakit kutukan” (dari Tuhan) bagi mereka yang melakukan zinah. Kurangnya keterbukaan dan kepedulian masyarakat dan tokoh agama, diduga menjadi penyebab masyarakat kemudian memandang virus yang menular melalui cairan vagina dan sperma, darah, dan air susu ibu ini. Bukan hanya merugikan ODHA, pandangan seperti itu malah membuat HIV mudah menyebar karena – dengan berpikir begitu – mereka tetap tidak mendapatkan informasi yang benar. Faktanya, HIV tidak hanya menyebar di kalangan IDU dan pekerja seks perempuan, melainkan telah merambah populasi umum beresiko, seperti ibu rumah tangga, buruh migran, korban perdagangan orang, serta
anak, yang kadang sulit dijangkau dan bahkan tidak terjangkau oleh program penanggulangan AIDS. Dan, di sinilah peran organisasi agama bisa sangat berperan banyak bagi pencegahan HIV & AIDS dan perawatan ODHA.

Banyak hal bisa dan harus dilakukan oleh organisasi keagamaan yang terdapat hampir di seluruh lini masyarakat kita. Alasannya, karena agama memiliki persepsi etis dan moral yang membicarakan tentang pengalaman kehidupan, termasuk sakit dan kematian. Bagi banyak negara dan sebagian wilayah di negara kita, organisasi keagamaan juga adalah penyedialayanan utama terhadap kesehatan, misalnya rumah ibadah yang kadang dijadikan sarana kesehatan. Lalu, pemimpin dan pemeluk agama bisa jadi berinteraksi langsung dengan ODHA. Dan yang penting, organisasi keagamaan telah menjadi pusat bagi kehidupan masyarakat, termasuk keluarga. Isu-isu personal yang dihadapi masyarakat terkait AIDS, seperti rasa bersalah, kepasrahan, dan memaafkan juga terdapat dalam kerangka ajaran agama. Hal tersebut pastinya sangat mempengaruhi cara pandang orang terhadap ODHA dan AIDS.

Sedangkan isu prioritas dalam membangun lingkungan yang mendukung, yang bisa dilakukan organisasi keagamaan, meliputi mengurangi stigma dan diskriminasi; merubah tabu mengenai perlunya diskusi terhadap seks, seksualitas, dan aspek beresiko; mempromosikan kepemimpinan; dan mengadvokasi kebijakan, hukum, dan praktek keorganisasian yang mencakup perlindungan bagi ODHA. Di kawasan Asia Timur dan Pasifik, peran organisasi serupa telah mulai digalakkan, seperti keterlibatan pendeta Buddha (Buddhist Leadership Initiative) di Thailand merawat ODHA, pelatihan guru agama yang dilakukan Yayasan Dana Islamic Centre di sejumlah kawasan Indonesia, dan lainnya. Sejumlah organisasi keagamaan yang terlibat dalam kerja dan program AIDS memang mengaku tidak mengutamakan kampanye penggunaan kondom. Mereka lebih mengutamakan pada keabsenan melakukan hubungan seks dan penekanan monogami bagi yang menikah.

Keterlibatan organisasi keagamaan ini tak sekedar berperan strategis dalam menjangkau masyarakat memperoleh informasi sehingga menciptakan masyarakat yang mampu melindungi diri, kelurga, dan orang lain dari HIV, melainkan turut menciptakan lingkungan yang suportif terhadap ODHA. Organisasi semacam ini pun bisa menyediakan akses yang memadai dan aktif mengadvokasi pihak-pihak terkait terhadap akses-akses dasar menyangkut HIV & AIDS. Bayangkan, dengan banyaknya organisasi keagamaan, sarana rumah ibadah, dan kondisi masyarakat kita yang religius, bukankah menjadi peluang yang baru dan sangat strategis dalam mengatasi AIDS di negara yang telah dinyatakan epidemi terkonsentrasi ini?!

Sumber: UNICEF, Background Paper “East Asia and Pacific Region: Interfaith Consultation: Children and HIV & AIDS,” 15-17 January 2008, Bangkok)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: