Anak-anak yang Terkena Dampak AIDS


By Nurdiansyah Dalidjo

Bersama lebih dari 4.000 orang delegasi dari berbagai negara, khususnya Asia dan Pasifik, saya menghadiri The 9th International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP IX) di Bali, sebagai delegasi media dari Radio Jurnal Perempuan.

Pada hari ke-2 kongres, saya memilih untuk memasuki symposia bertajuk “Caring Children & Families Affected by HIV in Concentrated & Low Level Epedimics” untuk melihat seperti apakah permasalahan yang dihadapi anak-anak terhadap AIDS. Ternyata cukup pelik juga bagi negara-negara berkembang yang masih menghadapi persoalan sistem kesehatan, terkait akses perawatan dan pengobatan yang belum memadai dan merata. Berdasarkan perkiraan data yang dipaparkan, 1,75 juta anak kehilangan salah satu atau kedua orangtua mereka akibat AIDS, dengan estimasi data berjumlah 6,75 juta kasus di Asia-Pasifik. Lebih dari 1 juta di antara mereka, berumur 0-14 tahun. Peluang pelanggaran hak-hak anak pun menunggu mereka, misalnya kehilangan produktivitas, pemasukan (pendapatan), kehilangan kepedulian orangtua yang sakit atau meninggal, tidak bisa bekerja nantinya, kemiskinan, putusnya akses pendidikan (drop-out), maupun akses kesehatan.

Anupama Rao Singh, regional director, UNICEF EAPRO, menekankan pentingnya feminisasi program AIDS melalui PMTCT (Preventing Mother to Child Transmission) untuk mengurangi jumlah anak yang dilahirkan dengan HIV positif. Fakta yang dipaparkannya, perempuan di Asia berjumlah hampir tiga kali lipat dibandingkan laki-laki, dan ini adalah sebuah resiko yang besar bagi perempuan untuk tertular HIV. Pada sejumlah negara di Asia, jumlah perempuan ODHA hampir setengahnya, bahkan lebih dari setengah dari jumlah total ODHA yang ada di Asia. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan menikah. Jadi, tampak akar persoalan dari anak-anak yang terkena dampak dari AIDS, baik anak-anak yang positif maupun anak-anak yang negatif dengan orangtua yang positif HIV atau AIDS, berawal dari orangtua (ayah), yang menulari si ibu, yang tanpa diketahui statusnya, ternyata melahirkan bayi yang kemungkinan positif.

Strategi yang bisa dilakukan adalah meningkatkan partnership dan konseling (khususnya bagi perempuan), penguatan pelayanan, dan keterlibatan perempuan dan laki-laki melalui self help groups. Hao Yang dari China menambahkan, perlu kebijakan pemenuhan HAM ODHA beserta keluarganya, kerja sama dengan organisasi pemerintah dan non-pemeirntah (lokal maupun internasional). Sedangkan Jacques Boyer dari Nepal, menegaskan pentingnya pemenuhan HAM anak sebab anak-anak yang terkena dampak AIDS, kadang tidak terlihat sehingga rentan menerima stigma dan diskriminasi. Mereka membutuhkan perlindungan, nutrisi, dan perawatan kesehatan.

Saat ini, program tes HIV untuk perempuan hamil di Thailand berjumlah 100%, namun Timor Leste, Indonesia, dan Bangladesh bisa dikatakan 0%. Sedangkan, yang mendapat program PMTCT, Fiji Islands berjumlah 100%, disusul Thailand 95%, dan Indonesia hanya 4%.

One Response to “Anak-anak yang Terkena Dampak AIDS”

  1. Anak-anak adalah aset bangsa yang tak ternilai. Jika Generasi Penerus Bangsa dalam keadaan sehat , maka negara tak perlu khawatir akan keberlangsungannya di masa datang. Harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah, stakeholder dan masyarakat utk memperhatikan masalah ini. Semoga angka HIV/AIDS khususnya pada anak anak dan ibu di indonesia kian hari kian berkurang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: