Sebaiknya Bermusuhan atau Bersahabat dengan Hutang?


Pada jaman seperti sekarang ini memang sulit untuk bisa bebas dari hutang dan ini sepertinya sudah menjadi sebagian dari gaya hidup.Baik orang kaya atau miskin bisa dipastikan semuanya pernah berurusan dengan hutang. Dalam Islam hutang bersifat mubah, artinya hutang boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan. Sebab dalil masalah hutang bersifat  umum tidak terdapat dalil yang mengkhususkan sehingga tetap pada keumumannya. Apabila menimbulkan kerusakkan maka hukumnya haram sesuai dengan kaidah fikih idzaa hashala  dzararun min fardi min afraadil mubai yumnaghu dzalika fardhu, yang maknanya apabila terjadi  bahaya  (kerusakkan) akibat bagian di antara satu satuan  yang mubah, maka satu itu  saja yang dilarang). Hal ini menunjukkan bahwa siapa saja boleh berutang asal mendatangkan kebaikan, tidak mengakibatkan kerusakkan.

Ada juga mitos atau anggapan “Hutang itu Buruk”, ini bisa benar bisa salah. Benar hutang itu buruk, apabila kita berhutang terlalu banyak, hanya untuk keperluan konsumtif. Tetapi apabila hutang itu kita manfaatkan untuk melakukan bisnis atau usaha, maka anggapan hutang itu buruk adalah salah.Atau dengan kata lain dalam berhutang kita harus pintar-pintar mengolahnya, kalau kita mempunyai hutang pribadi, sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan. Jangan banyak-banyak. Dan pastikan hutang itu bisa atau ada yang bayar.

Apalagi saat ini,begitu mudah untuk mendapatkan hutang, apapun bisa dihutangkan. Dari mulai uang, peralatan rumah tangga, furniture, HP (handphone), laptop, mobil sampai rumah. Para penjaja layanan kredit seakan-akan pantang menyerah mendatangi kita dari berbagai penjuru. Kenyataannya saja, waktu kita datang ke super market misalnya, di situ pasti ada counter penjaja jasa hutang atau paling tidak menerima pembayaran dengan kartu kredit. Di pasar-pasar tradisional kita juga sering melihat orang-orang yang menawarkan hutang-biasanya kepada para pedagang dan dengan bunga yang tinggi- sementara di kampung-kampung banyak salesman menjual produk yang pembayarannya bisa dcicil. Karena begitu mudahnya mendapatkan hutang orang justru bangga kalau mempunyai banyak pinjaman, khususnya untuk tingkatan ekonomi menengah ke atas, mereka berpikir telah mendapatkan kepercayaan dari orang atau lembaga keuangan yang memberi pinjaman dan ini bisa neningkatkan gengsi. Lihat saja betapa senangnya orang yang permohonan kartu kreditnya disetujui oleh bank. Kalau hal ini kita bandingan dengan kehidupan zaman Nabi SAW dan para sahabatnya kita akan mendapatkan betapa jauh perbedaannya. Dahulu, Nabi SAW dan para sahabat juga melakukan transaksi hutang. Namun bagi mereka, hutang bukanlah gaya hidup. Hutang juga bukan suatu kebanggaan. Mereka berhutang untuk memenuhi kebutuhan pokok ataupun berdagang . Jadi, tidak seperti saat ini, banyak orang berhutang hanya untuk memenuhi kebutuhan sekunder, atau bahkan kadang-kadang untuk sesuatu yang tidak perlu sama sekali.

Hutang Sebabkan Penyakit

Meskipun hutang sudah menjadi bagian dari gaya hidup tapi sebagian orang tetap beranggapan bahwa yang namanya hutang tentu saja tidak mengenakkan. Kalau boleh, mereka berharap tidak berhutang dalam hidup mereka. Sungguh tidak nikmat rasanya, hidup penuh dengan belitan hutang, setiap hari memikirkan bagaimana cara melunasinya, khawatir jika tidak dapat melunasi, barang-barang jaminan akan disita, dan seterusnya. Bahkan karena terlalu dipikir terkadang orang yang berhutang mengalami tekanan, kadang dapat terkena stroke atau pun tekanan mental. Penelitian terakhir di Amerika mengungkapkan bahwa semakin banyak hutang yang ditanggung seseoarang,makin banyak penyakit yang dikeluhkannya. Penyakit yang diderita bermacam-macam dari yang ringan seperti migren,maag,dan kejang otot sampai yang berat seperti serangan jantung dan depresi.Hal karena kondisi psikologis atau pikiran orang yang berhutang memang menderita dalam artian mengalami kecemasan yang berlebihan sehingga kesehatan pun terkena dampak negatifnya. Kalau begitu benar adanya apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW bahwa penyakit itu datangnya dari apa yang kita makan dan apa yang kita pikir. Dalam situasi seperti inilah dimana hutang sudah tidak lagi memberikan manfaat yang lebih baik maka seorang muslim dilarang untuk berhutang.

Berhutang yang baik dan benar

Islam nenganjurkan hidup sederhana yaitu tidak mewah dan tidak pula kikir agar kita tidak menghadapi kesempitan hidup yang akhirnya dapat membawa kita untuk masuk dalam transaksi hutang. Salah satu tantangan dalam mengelola keuangan adalah keinginan untuk memiliki atau membeli barang yang sebenarnya kurang atau tidak dibutuhkan. Kita harus benar-benar bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Apalagi mengekang keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih kenyataannya sangat sulit dikendalikan di saat kita memiliki uang yang lebih banyak. Jadikan hutang hanya sebagai alternatif terakhir untuk membantu menyelesaikan masalah keuangan kita. Kesalahan yang sering terjadi saat berhutang adalah, mengambil hutang terlalu banyak, dan digunakan untuk tujuan yang salah pula. Karena hutang orang jadi menguras tabungannya, menjaminkan harta bendanya dan melakukan aksi gali lubang tutup lubang dari satu hutang ke hutang yang lainnya hanya untuk digunakan memenuhi kebutuhan hariannya.

Dalam urusan berdagang, jika kita mampu mengelola hutang, ini bisa memberikan solusi yang baik untuk mengembangkan usaha. Disinilah umat islam bisa mendapatkan manfaat dari hutang itu sebenarnya. Ada saran bijak yang mengatakan bahwa berhutanglah hanya untuk urusan berdagang, jangan berhutang untuk urusan keperluan sehari-hari. Tapi tentu saja harus dipehitungkan terlebih dahulu akan kemampuan kita untuk bisa mengembangkan usaha itu dan mengembalikan hutang tepat waktu. Perhatikan deskripsi berikut ; dalam berbisnis, kalau bisnis kita mulai berkembang, pasti sangat membutuhkan tambahan modal kerja maupun investasi. Kalau kita mau maju, maka hutang untuk bisnis bukan suatu masalah, justru sangat perlu. Asal kita bisa menggunakannya secara tepat, hal itu justru akan membuat bisnis kita lebih berkembang. Misalnya kita mempunyai modal Rp. 10 juta. Dari modal itu kita unntung 20%, maka keuntungan yang kita peroleh Rp. 2 juta. Namun kalau dari Rp. 10 juta kita bisa mendatangkan tambahan modal Rp. 90 juta dari hutang, sehinga modal menjadi Rp. 100 juta, maka keuntungan kita yang 20% menjadi Rp. 20 juta. Dari sini kita bisa membandingkan berapa keuntungan kita sebelum dan sesudah mendapatkan modal dari luar. Itu contoh hitungan sederhana.

Melunasi hutang dengan doa

Adakalanya terkadang kita sebagai manusia, walaupun sudah dibekali dengan nasihat –nasihat agar menghindari atau setidaknya bisa mengelola hutang, tapi nyatanya banyak juga yang masih terjebak dengan hutang yang melilit. Untuk yang satu ini, disamping kita juga harus berusaha untuk mengembalikannya, islam memberikan solusi lain yaitu melalui doa. Doa ini diajarkan sendiri oleh Nabi SAW kepada salah seorang sahabatnya yang terlilit hutang. Setelah doa itu diamalkan maka lunaslah hutang yang melilit itu.

Artinya; ”Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari kekhawatiran dan kesedihan, aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas, aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kekuasaan orang.” (HR.Abu Dawud)

Kandungan doa diatas merupakan motivasi yang kuat untuk bangkit dari keterpurukkan dan sifat-sifat tercela sehingga kita dapat bekerja dengan baik dan penuh semangat kemudian dari hasil kerja itu kita bisa mengembalikan hutang. Inilah yang dimaksud melunasi hutang dengan doa. Sebenarnya ketika kita membaca doa ini, itu sekaligus memotivasi pikiran kita untuk bekerja secara produktif ,tidak lemah dan malas walaupun dalam kondisi dililit hutang. Kita juga berlindung kepada Allah dari sifat-sifat jelek yang timbul akibat liltan hutang, seperti menjadi kikir ataupun mempunyai inisiatif pengecut untuk lari dari tanggung jawab hutang. Nabi SAW menganjurkan untuk membaca doa ini setiap pagi dan sore dengan penuh penghayatan dan pemahaman terhadap kandungan maknanya. Dengan doa ini diharapkan jiwa kita akan terlepas dari tekanan dan bersemangat untuk menjalani kehidupan meskipun berat yang pada akhirnya akan membawa kita selamat dari cengkeraman hutang yang melilit melalui rahmat dan pertolongan Allah SWT.

One Response to “Sebaiknya Bermusuhan atau Bersahabat dengan Hutang?”

  1. Hutang adalah bagian dari kehidupan dunia…jadi harus dimanfaatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: