Terapi Urin; Menyembuhkan penyakit dengan barang najis


Urin yang merupakan sisa pembuangan dari dalam tubuh dan dianggap barang kotor dan najis ternyata bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Apakah ini hanya mitos atau bisa dibuktikan secara medis?dan bagaimana hukumnya dari segi agama?

Meskipun banyak media massa, baik cetak maupun elektronik, telah mempublikasikan tentang khasiat terapi urin, kenyataannya tidak mudah untuk meyakinkan masyarakat, termasuk para pakar kesehatan. Mereka masih ragu jika meminum urin sendiri bisa menyembuhkan berbagai penyakit Dasarnya para pakar di bidang kesehatan menyatakan air seni bukan saja berisikan zat-zat yang tidak berguna, tetapi juga mengandung bahan beracun. Urin adalah bahan buangan yang tak berguna yang sudah ditolak dan dikeluarkan tubuh. Disamping itu, ajaran orang tua, adat, budaya dan agama menyatakan air seni adalah bahan kotor dan najis. Kesan ini membayangi dan melekat terus di dalam pikiran setiap orang sampai sekarang. Terlepas dari itu, penghargaan patut diberikan kepada para ahli kesehatan dan ilmuwan yang mencoba mencari jalan keluarnya. Dengan adanya penemuan terapi urin ini, masyarakat mempunyai berbagai pilihan pengobatan alternatif. Apalagi terapi urin adalah terapi yang paling ekonomis mengingat begitu mahalnya biaya berobat saat ini baik pengobatan medis maupun alternatif.

Terapi urin adalah pengobatan dengan memggunakan air seni atau urin. Baik itu dengan cara dioles ataupun diminum. Kita menyebutnnya air kencing. Urin yang selama ini dianggap sebagai sisa pembuangan yang bau dan kotor ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Penggunaan urin sebagai obat dan menjaga kesehatan sudah dilakukan beribu-ribu tahun yang lalu. Di Indonesia, terapi ini sebenarnya sudah lama dikenal, tetapi namanya bukan terapi urin. Contohnya orang Jawa menggunakan air seni untuk mengobati mata yang sakit.

Sejarah terapi urin

Di India terapi urine sudah dikenal sejak 5000 tahun silam. Hal ini berdasarkan tulisan dalam kitab Damar Tantra, bab Shiwambu Kalpavidhi, yang artinya mempraktekkan minum air seni untuk meremajakan jaringan tubuh. Karena kitab ini ditulis Dewa Shiwa maka orang India menyebutnya Shiwambu (bu=urine). Hingga sekarang orang India meminum shiwambu setiap pagi untuk menjaga kesehatan. Bahkan, mantan Perdana Menteri India, Morarjibhai Desai (1977-1979), menjadi pelopor terapi urine. Ia melakukan terapi ini untuk mengobati penyakit sembelit yang dideritanya sejak usia muda. Pengalamannya ini dimuat di majalah Time pada tahun 1979.

Dukun suku Aztec di Amerika menggunakan urin untuk membasuh luka luar sebagai pencegah infeksi dan diminum untuk meredakan sakit lambung dan usus.

Terapi urin juga telah dilakukan orang di Eropa sejak 4000 tahun yang lalu. Plinius Secundus, pengarang Romawi kuno, mencatat penggunaan urin pada zaman Romawi kuno untuk pengobatan luka akibat gigitan anjing atau ular, infeksi mata, dan luka bakar. Bahkan, kaisar Romawi melakukan pemungutan pajak kepada para binatu yang menggunakan urin untuk mencuci. Bangsa Eskimo sejak dulu hingga sekarang memanfaatkan urin untuk keramas. Menurut mereka urin akan membuat rambut menjadi lebih bercahaya dan indah. Air seni juga sering digunakan oleh para prajurit ketika sedang berperang. Ketika kehabisan air minum dan obat, mereka memilih urin sebagai alternatif.

Dalam literatur Cina kuno Shang Han Lung (treatise on febrile disease) yang ditulis oleh Chang Yi pada Dinasti Han (1700 tahun yang lalu) terdapat catatan terapi urin, yang konon berkhasiat untuk melancarkan peredaran darah, penenang, dan menghilangkan panas dalam, penyakit mata serta lika pukul.

Urin yang menyembuhkan

Apakah terapi urin hanya sebuah mitos atau kepercayaan? Mengapa urin bermanfaat dan berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit? Para pakar urinoterapis, menemukan tidak kurang 200 unsur elemen murni di dalam air seni. Elemen-elemen dalam urine tadi bukan saja murni, tapi sedah dibioaktifkan sehingga sewaktu minum dan masuk ke dalam saluran pencernaan langsung dicerna dan digunakan tanpa mengeluarkan energi sedikit pun.

Terapi urin dipercaya dan telah terbukti dapat menyembuhkan berbagai jenis penyaki, seperti asma, batu empedu, hepatitis, hipertensi dan hipotensi, hipertrofi dan kamker prostat, infeksi saluran pencernaan, imfeksi saluran kemih dan reproduksi, infeksi saluran napas, kanker, kencing batu dan batu ginjal, diabetes, pecandu narkoba, mandul, penyakit jantung koroner, penyakit kelamin, psoriasis, sistemik lupus eritomatosis (SLE), flek pada kulit,sariawan, sakit gigi, epilepsi, sakit kepala, osteoporosis, rematik, sirosis dam wasir.

Anggapan umum bahwa urin sebagai zat yang “kotor”, hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.

Menurut pakar urin, memang tidak semua urin bisa dipakai untuk terapi apalagi yang digunakan dengan cara diminum, urin yang boleh dipakai untuk pengobatan tentu saja adalah urin sendiri, urin tersebut berwarna jernih dan tidak berbau, harus segera dikonsumsi begitu sudah dikeluarkan dan sebaiknya hanya urin aliran bagian tengah. Aliran ujung yang keluar dibuang dulu, baru aliran bagian tengah (midstream), ditampung semua. Aliran akhir sebelum berhenti kencing juga dibuang. Selain itu, urin yang baik untuk diminum adalah urin pada pagi hari atau setelah bangun tidur. Urin yang keluar pada pagi hari mempunyai kadar nutrisi yang lebih tinggi jika dibandingkan urin yang keluar pada siang hari. Sebenarnya urin yang keluar selama 24 jam mempunyai kadar yang sama, tetapi kuantitas nutrisi yang dikandungnya berbeda.

Dr. Iwan T. Budiarso, pakar patologi dan parasitologi tamatan Universitas Purdue, Indiana, Amerika Serikat, yang pernah merasakan kehebatan terapi urin mengatakan bahwa ada sepuluh hipotesa cara kerja terapi urin yaitu; Pertama, penyerapan dan penggunaan kembali nutrien. Kedua, penyerapan kembali hormon. Misalnya, kortikosteroid yang dapat mencegah infeksi, rematik dan asma. Atau, melationin sebagai obat penenang dan anti kanker. Ketiga, penyerapan kembali enzim. Keempat, penyerapan kembali urea. Urin mengandung 25-30 gram urea per hari. Kelima, memberi efek kekebalan. Keenam, memberi efek bakterisida dan virusida. Ketujuh, sebagai terapi garam yang berguna untuk memperlancar metabolisme, menyingkirkan kelebihan gula darah, dan mengeluarkan zat-2 toksik dari cairan dan jaringan tubuh. Kedelapan, memberi efek diuretika, yakni untuk menstimuler ginjal, meningkatkan produksi air seni, membersihkan ginjal serta ‘mencuci’ gula darah dan zat-2 toksik. Kesembilan, sebagai gambar hologram. Biofeedback-nya memberikan gambaran keadaan tubuh. Meminum urin akan mengoreksi dan memulihkan keseimbangan fisiologi tubuh yang terganggu penyakit. Dan, kesepuluh, memberi efek psikologis. Terapi ini dianggap sebagai penyembuhan dari dalam tubuh secara mekanistik dan holistik pada tingkat energi.

Cara Terapi

Ada dua cara terapi urin, yaitu internal dam eksternal. Terapi urin internal dilakukan dengan cara minum, suntik, tetes (mata, hidung, dan telinga), kumur dan enema (dimasukkan melalui dubur). Sementara terapi urin eksternal, dilakukan dengan cara memijat atau membasuh, kompres dan rendam bagian tubuh yang akan diobati. Dengan kata lain, masing-masing cara mempunyai fungsi pengobatan sendiri-sendiri.

Dosis terapi urin tidak terbatas. Artinya makin banyak urin yang dikonsumsi maki cepat sembuh, tidak ada efek samping, misalnya keracunan atau overdosis. Hanya saja akan ada reaksi yang ditimbulkan setelah meminumnya yaitu reaksi koten (bahasa Jepang) atau meigen (bahasa Cina) beupa timbul gejala seperti gatal, diare, ngilu, batuk-batuk, kembung, sembelit, gigi ngilu, dan kepala pusing, yang menandakan penyakit akan sembuh.

Jika terjadi reaksi Koten atau meigen, jangan takut atau  panik, boleh berhenti dulu 2-3 hari, setelah hilang gejalanya , hari ke 4 mulai minum lagi urin. Kalau mau minum terus juga tidak apa-apa. Juga boleh minum obat dokter untuk menghilangkan gejalanya sambil tetap minum air seni.

Baiknya lagi walaupun penderita sedang minum obat dokter, terapi urin masih bisa dilakukan. Caranya, urin diminum 1 jam sebelum dan sesudah penderita mengkonsumsi obat. Apabila setelah minum urine selama satu bulan dianjurkan untuk check up ke dokter. Jika gejala penyakit stabil, bulan berikutnya obat dokter bisa dikurangi secara bertahap. Walaupun kondisi sudah betul-betul membaik, air seni tetap masih diminum secara rutin.

Untuk menjalani terapi ini memang diperlukan nyali yang kuat. Karena rasanya yang cenderung tidak enak dan berbau, sebaiknya orang mencobanya satu-dua sendok per hari. Baru setelah terlatih, perlahan-lahan meningkatkan jumlah konsumsinya, bagi yang merasa sulit menelannya, dapat mencampur dengan jus buah.

Rasa urin memang bisa berubah-ubah tergantung dengan apa yang kita konsumsi setiap hari. Bila ingin urin terasa tawar dan tidak terlalu berbau, dianjurkan untuk memperbanyak makan sayur dan buah serta air putih. Bila mengkonsumsi daging atau makanan lain yang berlemak, urin akan terasa lebih asin, asam, atau bahkan pahit.

Dipandang dari segi agama

Dalam agama Islam urin termasuk najis, artinya bersifat haram kalau dikonsumsi seperti halnya khamr dan daging babi. Untuk penggunaan secara eksternal (dioles) masih bisa ditolerir karena setelah itu najisnya bisa dihilangkan dengan air tapi untuk yang penggunaan internal (diminum) ini masih terjadi kontroversi. Dalam kitab fiqh Al Majmu juz IX hal 50 dijelaskan untuk menyembuhkan sebuah penyakit dari barang najis, kecuali khamr, diperbolehkan asalkan bersifat darurat dan atas pengawasan orang yang ahli, dalam hal ini adalah dokter atau urinoterapis. Artinya penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan dengan terapi yang lain kecuali hanya dengan terapi urin. Seperti dihalalkannya insulin babi untuk menggantikan insulin penderita diabet karena memang hanya insulin babi yang cocok buat mereka. Masalahnya mungkin adalah kebanyakan penggunaan terapi urin ini menjadi pilihan karena murah bukan karena tidak ada obat yang lain, apalagi kenyataannya sekarang banyak sekali ditemukan pengobatan-pengobatan alternatif yang kalau dpandang dari segi fiqh agama lebih aman, jadi saat ini jarang sekali ada penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan hanya satu terapi. Akan tetapi bagaimana kalau seandainya darurat itu dilihat dari sisi biaya? Karena terbatasnya dana untuk berobat akhirnya memilih terapi urin yang jelas lebih murah atau kalau bisa dibilang hampir tidak mengeluarkan biaya sepeserpun? Wallahualam. (dikumpulkan dari berbagai sumber)

4 Responses to “Terapi Urin; Menyembuhkan penyakit dengan barang najis”

  1. parah kalo sdh bawa2 agama, padahal agama cuma ciptaan manusia, tidak bisa meramal masa depan, dimana teknologi semakin maju dan segala hal bisa ditemukan

  2. Trims tas trmuatx Terapy Urin yg sgt brmanfaat ini. Bagi kaum Nasrani, terapy Urin bukanlh hal yg najis dan haram, krn terinspirasi dari AMSAL 5:15 yg berbunyi: “Minumlah air dr kulahmu sendiri, minumlah air dr sumurmu yg membual.” Shyalom…..

  3. Terima kasih atas informasinya. sy sdh pernah mencoba 4 tahun lalu atas saran bos saya. sy minum 3x sehari utk mengobati sariawan dan penyakit asma saya. hasilnya sangat luarbiasa walaupun ada reaksi koten seperti kepala pusing dan diare.
    Artikel ini mengingatkan saya untuk terus melakukan terapi urine.

  4. terapi urin adalah resep peninggalan nenek moyang yg manjur atasi semua penyakit dan keluhan baik medis maupun nonmedis yg bahkan sudah dilakukan sejak jaman yunani dan romawi kuno yg mana semua agama belum muncul,jadi kalau dibenturkan dengan agama tidak akan nyambung,karna berdiri sendiri sendiri,seandainya dipaksakan dibenturkan agama ternyata terapi urin diakui semua agama dan kepercayaan,berikut bukti buktinya:hindu;kitab damar tantra,budha :sang budha menyarankan semua pengikutnya lakukan terapi supaya selalu sehat dan bugar bebas penyakit.kristen dalam amsal 5:15.dan dalam muslim tertulis dalam hadist shahih bhukori bab 1-4 ayat 154,ada sejarah minum kencing onta dicampur susunya buat obat dan dalam kitab fikih al majmu jus 9 hal 50 boleh menggunakan barang yg najis/haram buat obat,terimakasih salam sehat dan salam damai buat anda semua,ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: